Batu Giok Aceh Seberat 20 Ton Akan Dipindahkan Dari Hutan

Author : admin Category :news February 22, 2015

Batu Giok Aceh – Warga Aceh dihebohkan oleh penemuan batu giok seberat 20 ton di Desa Pante Ara, Beutong Ateuh, Nagan Raya, Aceh. Adalah Usman (45) bersama warga lainya yang menemukanya ketika mereka hendak mencari batu. Informasi penemuan batu ini kemudian menyebar luas sehingga banyak warga yang datang ke lokasi, dan meminta batu untuk dibelah. Permintaan warga tersebut di tolak oleh Usman hingga sempat terjadi kericuhan. Aparat kepolisian bersama TNI kemudian diterjunkan ke lokasi guna mendamaikan massa dan mengamankan batu giok tersebut. Kabar terakhir, Dinas Pertambangan dan Energi atau yang disingkat Distamben akan memindahkan batu giok tersebut dari hutan.

Batu Giok Aceh Seberat 20 Ton Akan Segera Dipindahkan

Batu Giok Aceh seberat 20 ton itu akan dibawa ke pusat pemerintahan di Suka Makmue. Hal ini disampaikan oleh Samsul Kamal selaku Kepala Distamben Kabupaten Nagan Raya. Menurutnya masih ada kendala dalam memindahkan batu giok tersebut karena banyak warga yang masih menentang. Lokasi penemuan batu giok sendiri masih ramai di datangi oleh warga sekitar serta awak media.

Wajar saja jika warga menolak jika batu giok tersebut dipindahkan dari lokasi mengingat nilai jualnya yang sangat tinggi. Bahkan batu mulia itu diperkirakan harganya sampai 30 miliar. Ini dikarenakan bongkahan batu yang ditemukan di tepian sungai sekitar 10 Km dari perkampungan itu mengandung batu jenis solar, idocrase dan neon. Dari informasi yang beredar, dalam batu itu juga mengandung idocrase super. Batu jenis ini nilai jualnya tinggi bisa mencapai Rp 15 juta untuk satu cincin saja.

Dari pantauan siputnews, hingga hari ini Batu Giok Aceh berbobot 20 ton itu masih dijaga oleh polisi bersenjata dibantu personel TNI dan warga setempat. Sebelumnya pemerintah Nagan Raya sejak 5 Februari mengeluarkan kebijakan untuk penghentian sementara aktivitas warga dalam penambangan dan pencarian batu alam dengan alasan untuk menghindari kerusakan alam. Namun banyak warga yang menolak moratorium pemkab Nagan Raya tersebut karena sebagian masyarakat bermata pencaharian sebagai pencari batu sehingga dinilai akan membunuh perekonomian masyarat. Menyikapi hal tersebut, Direktur IRI atau Independent Research Insitute Mulyadi Nurdin mengatakan Pemkab tidak perlu melarang masyarakat untuk mencari batu, akan tetapi pemerintah bisa mengaturnya saja supaya tidak merusak lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *